Senin, 1 November 2021

Sembalun dikenal dengan nama Desa Belik, yang mana masyarakatnya masih menganut keyakinan Animisme.
Jadi nama Desa Belik berubah jadi Sembahulun karena kedatangan Alquran dan kitab-kitab ini,” Di piagam dijelaskan bahwa masuknya agama Islam itu abad ke-15 di Pulau Lombok. Akan tetapi di Sembalun pada abad ke-13 tahun 1360 sudah masuk. Dengan masuknya Islam ke Sembalun, banyak perpaduan budaya dan adat yang diterapkan di sembalun.
Salah satunya terlihat dari rumah adatnya. Di kawasan revitalisasi desa adat yang ada di Sembalun Bumbung, terlihat ada 3 anak tangga yang ada di depan pintu masuk rumah. Ini berbeda dengan rumah adat di Sembalun Lawang yang memiliki 7 anak tangga. Kalau yang tangga-tangga ini menandakan bahwa sembalun dari Islam waktu 3 masuk ke Islam waktu 5,”
Sedangkan bagian lain seperti pondasi yang tinggi, pintu yang rendah, dinding dari anyaman bambu dan atap yang terbuat dari jerami sama dengan rumah adat yang ada di Sembalun Lawang atau Desa Belik.
Bagian menarik dari rumah adat ini adalah pintu yang dibuat rendah. Hal ini memiliki arti agar tamu yang masuk menunduk seolah memberi hormat kepada pemilik rumah. Lantainya juga unik karena terbuat dari tanah dan dilapisi oleh kotoran sapi.
Meski kini seluruh masyarakat Sembalun beragama Islam, tapi ada tradisi dari agama terdahulu yang masih dilakukan. Salah satunya dapat dilihat pada acara Ngayu-ayu. Ngayu-ayu adalah acara yang digelar untuk menyambut tamu penting yang berasal dari luar desa. Pada saat Ngayu-ayu ini biasanya warga akan menyembelih kerbau dan perang ketupat, yang merupakan tradisi dari agama Hindu. Selain itu akan ditampilkan pula Tari Tandang Mendhet yang merupakan tarian yang ada sejak agama Hindu berjaya di Sembalun. Namun dengan perkembangan zaman kini adat istiadat yang ada di Sembalun mulai hilang satu persatu.
