Nama : Rini Gunarti (200301088)
Kelas : KPI 5C
Tugas : Ke2 Cyber dakwah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Alhamdulilahi rabbil ‘alamin, was sholatu wassalamu ‘ala, asyrofil ambiyaa iwal mursalin, wa a’laa alihi wa sahbihi ajmain amma ba’du. Puji syukur tak lupa kita haturkan kepada Allah SWT, yang senantiasa memberikan kita rahmat dan hidayahnya kepada kita semua.
Sholawat dan salam tak lupa kita curahkan kepada junjungan nabi kita nabi besar muhammad SAW yang telah diutus oleh Allah SWT untuk menunjukkan jalan yang benar, menegakkan kebenaran serta menyampaikan rahmatnya Allah kepada kita semua khususnya kaum muslimin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan tentang Islam, termasuk di dalamnya masalah adab. Seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Dia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang mulia, baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain.
Tujuan pendidikan adalah untuk melahirkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT., Tuhan Yang Maha Esa sehingga melahirkan kepribadian yang berkarakter santun, berbudi pekerti baik dan berakhlak karimah. Intinya, pendidikan diselenggarakan sebagaimana tujuan pendidikan nasional Dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, dengan beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dan Budi pekerti luhur yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggug jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dalam Islam bahwa pendidikan harus dapat mewujudkan manusia paripurna Dengan kondisi sehat jasmani dan rohani sehingga mampu menjalankan perintah Allah-Nya dan Rasulnya dan meninggalkan larang-larangannya. Hal ini dapat Terealisasi jika dalam pendidikan terjadi sinergitas triparted (pemerintah, pelaksana dan peserta didik). Utamanya adalah peserta didik, dimana murid atau siswa harus mempunyai kesadaran bahwa pendidikan adalah suatu proses dalam pencarian ilmu (thalabul ilmi). Ada tata krama dalam mencari ilmu bagi murid yang harus diketahui, sehingga mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Hal ini yang dirasa saat ini terjadi kelangkaan. Murid tidak tahu bagaimana tata krama mencari ilmu, sehingga kerap kali terjadi perkelahian baik antar teman, bahkan murid melawan gurunya.
Adab dalam menuntut ilmu merupakan bagian dari ilmu, karena bersumber dari dalil-dalil. Adab dalam menuntut ilmu juga sesuatu yang mesti diamalkan tidak hanya diilmui. Sehingga perkara ini mencakup ilmu dan amal. Adab merupakan kesopanan, tingkah laku yang pantas dan baik, kehalusan budi bahasa, tata susila. Bentuk jamaknya adalah al-adab, adab berarti kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, akhlak, norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, terutama dalam ajaran agama islam. Adab dalam menuntut ilmu harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu, tidak peduli tua atau muda. Juga tidak tergantung ilmu dunia atau ilmu akhirat. Dengan menerapkan adab menuntut ilmu ketika belajar maka ilmu akan berkah Dan dimudahkan dalam segala urusan menuntut ilmu .
Adab adalah penentu keberhasilan dalam belajar. Dengan adab, maka ilmu yang disampaikan oleh guru akan mudah dijangkau dan dapat menjadikan ilmu yang kita terima menjadi bermanfaat. Bila adab dalam menuntut ilmu, maka ilmu menjadi berkah, yaitu ilmu terus bertambah dan mendatangkan manfaat. Keutamaan dalam menuntut ilmu sifatnya wajib, bahkan sampai diistilahkan ‘tuntutlah ilmu sampai negeri Cina’, yang berarti tidak ada tempat untuk tidak belajar. Adapun adab dalam menuntut ilmu yaitu:
Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu. Dalam menuntut ilmu kita harus ikhlas karena Allah Ta’ala dan seseorang tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah. (Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan memurnikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus). (QS. Al-Bayyinah:5)
Orang yang menuntut ilmu bukan karena mengharap wajah Allah termasuk orang yang pertama kali dipanaskan api neraka untuknya. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ( barang siapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat hadumnya aroma surga pada hari kiamat) (HR. Ahmad).
Berakhlak dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang dianjurkan dalam nash-nash syariat. Yaitu hendaknya penuntut ilmu itu: zuhud terhadap dunia, dermawan, berwajah cerah (tidak masam), bisa menahan marah, bisa menahan gangguan dari masyarakat, sabar, menjaga muru’ah, menjauhkan diri dari penghasilan yang rendahan, senantiasa wara, khusyuk, tenang, berwibawa, tawadhu’, sering memberikan makanan (mendahulukan orang lain dalam perkara dunia) namun tidak minta didahulukan, bersikap adil, banyak bersyukur, mudah membantu hajat orang lain, mudah memanfaatkan kedudukannya dalam kebaikan, lemah lembut terhadap orang miskin, akrab dengan tetangga.
Berdoa, memohon ilmu yang bermanfaat hendaknya setiap penuntut ilmu senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah SWT dan memohon pertolongan kepadanya dalam mencari ilmu serta selalu merasa butuh kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah SWT w dan berlindung kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat, karena banyak kaum Muslimin yang justru mempelajari ilmu yang tidak bermanfaat, seperti mempelajari ilmu filsafat, ilmu kalam ilmu hukum sekuler, dan lainnnya.
Berniat dalam menuntut ilmu. Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari’at, karena kedudukan syari’at sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak berarti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid’ah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah . Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qor’an dan As-Sunnah.
Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan. Termasuk adab yang penting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, karena amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Karena orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan).
Tawakal. Setelah melakukan usaha terbaik, tiap muslim menyerahkan hasilnya sesuai ketentuan Allah SWT sesuai sifat tawakal. Syekh Shahhat bin Mahmud Ash Shawi mengungkapkan, tawakal artinya percaya sepenuhnya kepada Allah SWT. Adapun yang ditetapkannya atas usaha dalam mencari ilmu, seorang muslim sudah sepatutnya menerima hal itu dengan keikhlasan. Sebab, semua yang dikehendaki Allah SWT pasti mengandung hikmah di baliknya.
Diam ketika pelajaran disampaikan, ketika belajar dan mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampaikan, tidak boleh ngobrol. Allah Ta’ala berfirman, “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)