Tujuan pendidikan dalam Al Qur’an

Nama : Rini Gunarti (200301088)
Kelas : 5C
Matkul: cyber dakwah

TUJUAN PENDIDIKAN DALAM AL QUR’AN

Allah menurunkan Alquran kepada manusia dengan sebuah tujuan mendidik dan mengarahkan manusia agar berhasil menjalankan fungsi utama keberadaan mereka di muka bumi, sebagai khalifah Allah dan hambanya seluruh potensi kecerdasan yang Allah karuniakan untuk membangun peradaban kelak harus dipertanggungjawabkan dan AlQuran merupakan jawaban dari seluruh permasalahan itu. Sesungguhnya Alquran seluruhnya berisi pendidikan dan pengerahan untuk membangun sebuah bangsa yang mulia yang tegak sebagai khalifah ar-rasyidah di dunia, dan mendidik jiwa kemanusiaan dalam sebuah aspeknya sehingga terbangun integritas manusia dalam aspek pribadi, spiritual, sosial dan peradaban.
Dengan demikian tujuan pendidikan yang paling mendasar adalah terciptanya perubahan yang diharapkan dalam seluruh perbuatan pada dunia kehidupan manusia. Dan Allah menginginkan seluruh perubahan itu terjadi di bawah naungan Alquran, di bawah inspirasinya, sehingga perubahan itu tercipta ke arah yang baik sebagaimana sifat Alquran itu sendiri, Ali bin Abi Thalib Ra pernah berkata: Alquran itu baru dan takkan usang inovasinya.
Pendapat serupa tentang tujuan pendidikan dalam Alquran dikemukakan saibani yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah “adanya perubahan yang positif yang ingin dicapai melalui sebuah proses atau upaya-upaya pendidikan, baik perubahan itu terjadi pada aspek tingkah laku, kehidupan pribadi dan masyarakat, dan lingkungan luas dimana pribadi itu hidup”

Atas dasar inilah Alquran tidak memandang bahwa pencarian pengetahuan adalah demi pengetahuan itu sendiri tanpa merujuk kepada idealisme spiritual yang harus diraihnya yaitu kemaslahatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, atau dengan kata lain sukses bagi khalifah dan sukses sebagai seorang hamba yang mengabdi Allah SAW.
KAJIAN TAFSIR TENTANG TUJUAN PENDIDIKAN
Surat at-taubah ayat 122 Allah subhanahu Wa ta’ala menyampaikan sebuah arti penting kedudukan pendidikan bagi manusia yang artinya “tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semaunya (ke medan perang) mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

Pada ayat inilah Allah subhanahu Wa ta’ala memerintahkan agar senantiasa ada sekelompok manusia yang memperdalam ilmu pengetahuan meski sedang ada perintah jihad. Hal ini menunjukkan “kebutuhan suatu bangsa terhadap jihad dan para mujahid sama seperti kebutuhan bangsa terhadap ilmu dan para ulama”
Al Mawardi, memberikan sebuah pengertian bahwa tujuan atas seluruh peristiwa apapun dalam kehidupan orang beriman adalah untuk mengambil pelajaran dalam rangka meningkatkan keimanan mereka dan meraih kedudukan yang lebih baik dalam ketakwaan kepada Allah subhanahu Wa ta’ala dalam ayat ini peristiwa pergi berperang Syariah maupun memperdalam pengetahuan adalah untuk tujuan tersebut. Al Mawardi menyebutkan makna ” liyatafaqqahu dif diin”
Pertama, memperdalam pemahaman terhadap hukum-hukum agama dan pengetahuan syariat dan menjaga dan membawa risalah tersebut serta memberikan peringatan kepada kelompok yang ikut berperang ketika mereka kembali, dan kedua adalah agar mereka memahami bahwa apa yang mereka saksikan adalah pertolongan Allah terhadap rasulnya dan menguatkan agama mereka,membenarkan janji Allah atas mereka serta memberikan kesaksian atas mukjizat allah subhanahu wa ta’ala atas mereka untuk menguatkan keimanan dan hal-hal tersebut mereka kabarkan kepada sekelompok mereka.
Pendapat serupa dengan pendapat Ibnu ajibah yang mengatakan bahwa dalam ayat ini terdapat dua perjalanan yang menggambarkan tujuan pendidikan yaitu perjalanan pendidik diri melalui proses pembelajaran hukum-hukum agama dan proses melatih kekuatan kepribadian kedua perjalanan memberikan tujuan yang berbeda yaitu mereka yang kembali dari pelajaran hukum-hukum menegakkan dengan lisannya mengajak manusia kembali kepada Allah, dan mereka yang kembali dari perjalanan adab dan ridho menegakkan pada manusia dengan memberikan petunjuk dengan kesempurnaan akhlaq.


Atas pendapat tersebut dapat kita simpulkan bahwa Ibnu ajibah berpendapat bahwa bentuk pendidikan tidak hanya proses pengajaran ataupun penerangan dalam forum talaki melainkan pula dalam bentuk latihan dan praktik dalam lapangan lapangan amal.masing-masing dari model pendidikan ini mempunyai tujuan yang berbeda namun saling melengkapi satu sisi menegakkan pada penguasaan konseptual Dan pengajaran kembali dan sisi lain menekankan pada aspek praktik internalisasi dan keteladanan atau model.
Pendidikan juga bertujuan membina seluruh potensi manusia baik aspek pemikiran, mentalis dan fisik. Pendapat ini dikemukakan oleh Al qasimi menurutnya tujuan pendidikan adalah tafaku dan barangsiapa yang menginginkannya maka berjalanlah di jalan Allah, carilah jalan untuk menyucikan dan membersihkan jiwa hingga nampak dengan jelas ilmu dari hatinya atas perkataannya. Menurut Al qasimi tafaku adalah ilmu yang tertanam kuat di dalam hati, menggerakkan jiwa, dan dampak dengan jelas dampak ilmu atas anggota badannya. Dengan demikian keberhasilan tujuan pendidikan tampak dalam semua aspek potensi dasar manusia dan dapat terlihat dalam aspek amaliyahnya.
Pendidikan mempunyai tujuan yang mulia yaitu menjadikan peserta didik memiliki integritas antara aspek perkataan perbuatan dan kebaikan niat atau motivasi, pendapat ini dikemukakan oleh arbikai yang mengatakan agar mereka mendengarkan penuturan lisannya, mencontoh dan melihat kebaikan perbuatannya dan sampai kepada hati mereka segala perbuatan mereka yang berkesan.
Dengan demikian albika iyundang bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi kemanusiaan secara utuh aspek jasmani dan rohaninya. Peserta didik juga dibentuk menjadi manusia yang memiliki integritas kepribadian antara aspek perkataan, perbuatan dan kebaikan hati mereka. Lebih jauh lagi tujuan pendidikan selain menjalani dalam bentuk kebaikan individu juga menjadi contoh dan menginspirasi sesamanya.
Ayat ke 122 surat at-taubah ini juga mengisyaratkan bahwa teknik pertahanan dan keamanan serta ekspektasi dan penguasaan wilayah selain melalui jihad peperangan juga membutuhkan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Dalam perspektif tujuan pendidikan bersifat ekspresif. Kesalahan sebagai tujuan dari pendidikan adalah kesejahteraan dan kemakmuran yang luas dalam lingkup sebuah bangsa dan negara. Jika menggunakan pendekatan langkah-langkah dakwah, menegakkan Islam atas negara itu terjadi setelah tegaknya Islam atas pribadi keluarga dan masyarakat. Dengan demikian semakin luas ke masalahhatan hasil sebuah pendidikan semakin baik pula tujuan yang tercapai. Hal ini sebagaimana sabda nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Jabir Ra. Yang artinya”orang beriman itu bersatu dan menyatukan, tak akan ada kebaikan bagi orang yang tidak bersatu dan menyatukan, dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”
Dalam perspektif iman at Tastariy, tercapainya sebuah tujuan pendidikan adalah bukan sekedar mendengar secara lahirah ucapan yang keluar dari lisan seseorang objek didik, atau tulisan yang tertulis, maupun perbuatan yang dilakukan, melainkan aspek yang terpenting menurut at Tastariy adalah ” kemampuan melakukan evaluasi dan secara mandiri atas seluruh amaliahnya” istilah ini disebutkan sebagai ” Al muhasabah”.
Dalam proses pendidikan, evaluasi merupakan proses yang tegak di atas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Evaluasi juga merupakan proses yang memungkinkan terjadinya pengembangan selanjutnya. Dengan demikian pendapat ini merupakan pendapat yang normatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan potensi manusia.


JADI penjelasan para ulama tafsir klasik maupun kontemporer terhadap tema tujuan pendidikan dalam Islam, khususnya tafsir pada ayat ke 122 surat at-taubah ini memberikan sebuah kesimpulan dasar kokoh bahwa seluruh aspek yang diharapkan terlahir dari proses pendidikan mengarah kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan dalam Islam juga menginginkan terbentuknya manusia muslim yang memiliki integritas pada kepribadiannya, kebaikan ucapan menjelma pula dalam kebaikan perilaku yang semuanya merupakan cerminan atas keberhasilan hatinya. Selain wujud dalam bentuk manfaat bagi pribadi peserta didik hasil pendidikan juga diharapkan wujud manfaatnya secara luas dalam keluarga, masyarakat dan negara. Semakin luas manfaat yang dirasakan dari sebuah pendidikan maka semakin baik proses peninggalan tersebut. Tujuan pendidikan dalam Islam juga menghasilkan pribadi yang mandiri serta terus-menerus berkembang dalam kebaikan pada sebuah potensi dasar yang dimilikinya, karena kemampuan melakukan evaluasi pengembangan bidang keilmuan dan inovasi.

Tinggalkan Komentar